Edukasi Kesehatan Ginjal pada Anak di MI Al Muta’allimin Kota Semarang

Upaya Implementasi Transformasi Kesehatan Pilar Promotif-Preventif oleh Poltekkes Kemenkes Semarang

Penyakit ginjal pada anak terus menjadi perhatian. Data IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyebut 1 dari 5 anak usia 12-18 tahun memiliki hematuria atau proteinuria sebagai gejala awal gangguan ginjal. Kemenkes RI (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia) juga mencatat adanya 19 kasus baru GGAPA (Gagal Ginjal Akut Progresif Atipikal) pada Mei 2025 di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Penyebabnya tidak lepas dari konsumsi GGL (Gula, Garam, Lemak) berlebih pada jajanan anak dan keterlambatan deteksi dini. Padahal gejala sakit ginjal GGAPA:  seperti demam, mual, muntah, dan penurunan volume urine sering terabaikan.

Merespons hal ini, Tim Pengabdian Masyarakat Dosen Prodi Teknologi Radiologi Pencitraan Program Sarjana Terapan, Poltekkes Kemenkes Semarang melaksanakan kegiatan edukasi di MI (Madrasah Ibtidaiyah) Al Mitaallimin Semarang yang diketuai oleh Sri Mulyati, S.Si., M.T., dengan beranggotakan Andrey Kurniawan,S.ST.,M.Eng. dan  Salis Nurbaiti, S.Tr.Kes. (Rad), M.Tr.ID., ikut peran serta juga beberapa mahasiswa : Afi Tarisa Nur Azizah, Muhamad Hafidz Giofanny, Muhammad Daffa Rajendra, Vika Pramutia, Widiah Selfianah, Keyla Azahra Reina. Kegiatan ini didanai DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) Poltekkes Kemenkes Semarang Tahun 2026 dan merupakan implementasi Transformasi Kesehatan pilar 1: layanan primer dengan pendekatan promotif-preventif.

Kegiatan menyasar 62 siswa dan 3 guru. Materi inti yang diberikan adalah fungsi ginjal, 11 tanda bahaya GGAPA versi Kemenkes, pentingnya minum air putih 6-8 gelas/hari, dan bahaya jajanan tinggi GGL. Media yang digunakanantara lain video interaktif, lembar balik, dan media presentasi yang colourfull agar menarik dan mudah dipahami anak serta dilengkapi dengan metode sederhana pengecekkan fungsi ginjal berdasarkan dari warna urine.

Sebagai dampak dari kegiatan ini adalah sebelum edukasi, 78% siswa belum tahu penurunan BAK/Buang Air Kecil bisa jadi tanda gangguan ginjal. Setelah kegiatan, 92% siswa mampu menyebutkan minimal 3 gejala awal GGAPA. Guru MI Al Mitaallimin Semarang pun berkomitmen mengintegrasikan materi ke program UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) hingga terbentuk grup  “Duta Ginjal Cilik” yang bertugas mengingatkan teman jajan sehat dan cukup minum. Kegiatan ini bukti nyata peran perguruan tinggi vokasi kesehatan dalam mendukung transformasi kesehatan. Dengan deteksi dini dan gaya hidup CERDIK: Cek kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat, Istirahat cukup, Kelola stres, kita cegah gagal ginjal sejak usia sekolah.

“Ginjal Sehat, Anak Hebat, Indonesia Kuat”

admin

Situs resmi Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes Semarang

You may also like...